Keanehan Dibalik Bacaan Al-Qur’an

Judul buku : Praktikum Qira’at, Keanehan Bacaan Al-Qur’an Qira’at Ashim dari Hafash
Penulis : Dr. H. Abdul Majid Khon. M. Ag
Penerbit : AMZAH, Jakarta
Cetakan I : Januari 2008
Tebal : 188 Halaman
Peresensi : Wusthol Bachrie, penggiat Taman Baca Masyarakat Cabeyan (TBMC) Yogyakarta.

Fenomena dalam Al-Qur’an sejatinya telah memperluas pengetahuan kita terhadap suatu keilmuan. Karena di dalamnya termaktub nilai yang sangat tinggi sehingga m anusia selalu mempelajari dan mengkajinya. Kitab suci Al-Qur’an juga bisa dikatakan kitab sastra karena di dalamnya juga mengandung bahasa dan adagium yang sangat tinggi. Banyak para penafsir masih kebingungan dalam menafsirkan ayat, inilah hal yang bisa dijadikan sebagai bukti bahwasannya kandungan Ayat Al-Qur’an sangat monumental.

Juga keanehan di dalam bacaan Al-Qur’an sesungguhnya menambah keyakinan kita terhadap kitab suci tersebut. Karena Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril yang di perintahkan oleh Allah Swt. Al-Qur’an itu sendiri turun secara berangsur-angsur dan pertama kali surah yang diturunkan adalah surah Al-Alaq 1-19. Ketika itu, Nabi sendiri berada di dalam Gua Hira dan datanglah Malaikat Jibril dengan wajah yang bercahaya. Namun perasaan Nabi ketakutan serta menggigil. Karena saat itu, Malaikat Jibril berkata “Iqra” hai Nabi baca dan bacalah.

Coba bayangkan ketika kita sendirian di dalam Gua tanpa ada penerang lampu atau cahaya dan tiba-tiba datanglah sesosok manusia yang bercahaya lalu berkata kepadanya. Secara tidak langsung perasaan kita mengalami ketakutan yang laur biasa. Namun dibalik semua itu, tersimpan wahyu yang pertama kali diberikan kepada Nabi Muhammad Saw yang berupa surat al-’alaq. Dan seterusnya wahyu diberikan secara berangsur-angsur sampai terciptalah kitab Suci Al-Qur’an yang sampai saat ini masih kita pelajari. Sampai saat ini pula al-Qur’an masih tetap terjaga kemurniannya serta selalu up to date dengan zaman. Al-Qur’an tidak terbelenggu oleh waktu serta zaman yang bersifat temporal, namun selalu abadi (shahihun fi kulli zaman wa makan).

Setelah pewahyuan selesai, tentunya Nabi telah hafal dan juga para sahabat-sahabat Nabi ikut andil dalam menghafalkan Al-Qur’an (Hafidz-hafidzo). Namun ketika itu peperangan masih berlangsung terhadap kaum Qurays. Dimana kaum Qurays sangat benci terhadap islam. Tentunya menolak kitab suci Al-Qur’an bahkan tidak mempercayai bahwa itu wahyu Allah Swt yang diberikan kepada Nabi Muhammad Saw untuk seluruh umat yang ada di dunia. Peperangan yang terjadi saat itu, menimbulkan banyaknya para pengfhafal Al-Qur’an yang meninggal. Maka Nabi mulai berfikir agar kitab suci Al-Qur’an segera di bukukan.

Memang sebelumnya Nabi juga sudah memperintahkan kepada sahabatnya. Bahwa Ayat-ayat yang sudah dihafal tetap ditulis. Saat itu memang belum ada kertas, namun Nabi menyuruh agar para sahabatnya menulis di daun (pelepah), kulit dan tulang binatang. Oleh karena itu kitab suci Al-Qur’an kini selalu abadi bahkan banyak sekali yang menghafalkan. Juga banyak pendidikan pesantren yang khusus menghafalkan Al-Qur’an.

Disisi lain kitab suci Al-Qur’an juga mengalami dialek dengan berbagai bangsa sehingga menjumpai banyak cara dalam membaca. Dalam hal ini, Nabi Muhammad tidak menjadikannya sebagai sebuah persoalan. Karena Nabi tahu pada saat itu bahasa dan dialek antara kota yang satu dengan yang lain sangat berbeda. Ini menyebabkan cara pembacaan ayat Al-Qur’an memiliki berbagai versi. Disinilah letak terjadinya keanehan karena dalam bacaan Al-Qur’an terdapat berbagai macam versi bacaan. Dalam ilmu qira’at terdapat tujuh macam qira’at yang masyhur yang disebut Qira’ah Sab’ah atau orang menyebutnya tujuh imam (35).

Keanehan dalam membaca ayat Al-Qur’an ini sesungguhnya telah memberikan nilai estetika dalam Seni membaca Al-Qur’an. Nilai estetika merupakan nilai tersendiri yang biasanya di bawakan oleh seorang Qori atau Qari’ah. Suara yang merdu bisa menjadikan kita khusu’ dan meresapi dari isi ayat tersebut. Karena banyak para Qori dan Qari’ah pada tingkatan Internasional yang membawakan bacaan Qira’at Tujuh (Qira’ah Sab’ah).

Penulis buku ini juga memberikan gambaran dan contoh diantara tujuh imam tersebut. Seperti bacaan Qira’at menurut Imam Ashim dari Hafash, dari Imam yang satu ini merupakan bacaan yang dipakai di Negara Indonesia. Karena menurut cara pembacaanya relatif mudah diantara Imam yang lainnya. Contoh ayat yang dibacakan menurut Imam Ashim dari Hafash, pada kalimat Wayabshutu (Al-Baqarah 2:245), Shu dibaca Su, jadi huruf shad dibaca sin biasa. Ini adalah salah satu contohnya. Disamping akan ada contoh-contoh lain yang akan kita jumpai dalam bacaan Al-Qur’an.

Buku yang berjudul Praktikum Qira’at yang di tulis oleh Dr. H. Abdul Majid Khon M. Ag ini telah menyuguhkan terhadap para pembaca agar lebih mudah untuk mempelajari dan mengenalkan keanehan dalam membaca Ayat Al-Qur’an. Sebagaimana Nabi yang telah membenarkan terhadap bacaannya. Menurut hemat penulis juga sangat dianjurkan bagi pemula atau tingkat dasar untuk diperkenalkan. Karena bacaan semacam ini sudah tidak asing lagi justru harus kita pelajari dan ketahui tentang ilmu tersebut. Bahwa di dalam Al-Qur’an banyak ayat-ayat yang aneh, namun sangat banyak orang yang tidak perduli terhadap bacaan sehingga cara membaca pun asal-asalan.

Buku yang ditangan pembaca telah menjawab secara gamblang segala persolan yang menyangkut di dalam Al-Qur’an. Hal yang diungkap seperti keanehan dalam tulisan maupun dalam bacaan, munculnya Ilmu Qira’at Tujuh, dan mengapa Indonesia lebih banyak mengikuti Imam Ashim dan Hafash. Semuanya telah terangkum dalam buku ini demi membantu dan membimbing masyarakat Islam yang berkeinginan membaca Al-Qur’an dengan benar.

1 komentar:

Wah buku ini memang sangat mantap,soalnya aku udah punya buku itu dan aku sudah baca semua dan isinya pun gak sebanding harganya yang murah,he....

Ketentuan berkomentar :

- Dilarang menautkan link aktif maupun mempastekan link mati, karena komentar yang disertai promosi URL tidak akan pernah tampilkan

- Dilarang berkomentar yang Di Luar Topik (OOT), promosi, dan komentar-komentar yang anda tidak suka jika hal itu terjadi di blog anda sendiri, karena komentar seperti itu tidak akan pernah ditampilkan