Masa Depan Kaum Bersarung

Judul Buku: NU dan Neoliberalisme
Penulis: Nur Kholik Ridwan
Penerbit: LKis Yogyakarta
Cetakan I: 2008
Tebal: 204 Halaman

Tragis memang, jika melihat nasib warga Nahdliyin yang sebagian besar hidup mereka selalu berada di tempat-tempat yang sempit dan kumuh, dengan menjadi nelayan kecil, petani miskin, buruh urban, transmigran, bahkan tidak sedikit dari mereka yang harus bekerja keluar negeri menjadi TKI/TKW sebagai buruh kasar dan operator alat-alat berat yang berisiko cukup tinggi.
Fenomena di atas, menunjukkan bahwa organisasi NU (Nahdlatul Ulama) memang tidak mampu menyejahterakan warganya. Bahkan, dalam sejarahnya, organisasi NU tidak pernah menghasilkan prestasi apa pun yang bisa dibanggakan bagi warganya. Parahnya, di bidang ekonomi dan politik, organisasi terkadang tampil sebagai pecundang.

Tentu saja hal ini sangat ironis dan memprihatinkan, karena tidak sebanding dengan sosok NU (sebagai organisasi sosial keagamaan) yang memiliki massa paling banyak di Indonesia bahkan di dunia, jaringannya yang amat luas, dan juga usianya yang sudah cukup tua, ternyata belum mampu juga untuk menyejahterakan warganya. Mengherankan bukan?

Bahkan pada era sekarang ini, nasib basis massa NU semakin parah, mereka telah terseok-seok terbawa arus modernisasi dan lumpuh oleh terkaman imperialisme neoliberalisme; sebagian dari mereka ada yang merasa gelisah dengan nasib basis massa NU di bawah tapi kebingungan untuk mencari jalan keluarnya, sebagian pula, walaupun tidak banyak, ada yang sudah kecewa dengan NU dan beralih ke kelompok lain. Sementara para elite NU terus sibuk memikirkan kepentingannya sendiri-sendiri. Bahkan, mereka saling terkam dengan sesama warga NU-nya.

Di tengah-tengah kondisi yang serba merisaukan inilah Nur Kholik melalui buku ini hadir ingin memberikan semacam petunjuk jalan bagi perjalanan NU ke depan bersamaan dengan ganasnya neoliberalisme. Nur Kholik di sini mencoba melihat NU dari masa lalu dan tatapannya jauh ke depan bersamaan dengan semakin canggih dan ganasnya neoliberalime yang tengah diadopsi oleh negara kita sekarang ini.

Pasif

Menurut penulis buku ini, yang menyebabkan NU selalu kecewa dan berakhir dengan kekalahan, karena dalam banyak perubahan sosial, masyarakat NU selalu bersikap pasif, sehingga respons yang muncul acapkali bersifat reaktif semata. Jika itu benar, maka tidak heran kalau organisasi ini selalu lambat dan berakhir dengan kekecewaan, baik dalam bidang ekonomi maupun di bidang politik. Tapi kita juga harus jujur, dalam keadaan-keadan tertentu (genting) peran NU sangat dirasakan. Misalnya, ketika negara Pancasila ini sedang terancam oleh ormas-ormas Islam yang masih setia dengan jargon negara Islam, NU tampil ke depan dan memberi argumentasi akan pentingnya Islam dan umat Islam mendukung Pancasila. Akan tetapi, setelah itu, NU tetap berada dalam posisi yang pinggiran, baik dalam ekonomi maupun dalam kekuatan penentu kebijakan.

Saat ini, tantangan yang harus dihadapi NU adalah neoliberalisme yang didukung oleh badan-badan dunia, seperti World Bank, IMF (International Monitary Fund), WTO (World Trade Organization), dan perusahaan-perusahaan transnasional lainnya, di mana neoliberalisme ini telah menguasai seluruh aspek saluran kehidupan bangsa ini. Tentu menghadapinya tidak cukup hanya direspons dengan dalil-dalil/ayat-ayat, atau dengan sekadar mengaji kitab kuning, melakukan pelatihan-pelatihan, bahsul mas'il, pengajian ataupun pola-pola yang membonsai Aswaja (dalam arti konvensional).

Keberatan penulis terhadap cara-cara tersebut, sebab analisis-analisisnya tidak menyentuh ke persoalan-persoalan masyarakat NU dalam prespektif ekonomi dan struktur imperialisme neoliberalisme kerena hanya berkutat pada wilayah wacana keagamaan. Risikonya jelas, rakyat bawah makin sekarat dan menjerit kelaparan.

Dengan demikian, di dalam buku ini, Nur Kholik menyarankan kepada kaum Ulama ini akan pentingnya NU merespons secara kreatif-aktif, dan juga perlunya membuat kerangka besar (by grand design) sebagai panduan cara-cara kerja organisasi ini ke depan untuk memajukan, memberdayakan dan menyejahterakan warganya di tengah-tengah ganasnya neoliberalisme.

Sebab, jika NU masih tidak mau meresponsnya dengan kreatif-aktif serta membuat grand design ke depan, maka selamanya oraganisasi ini tetap tumpul dan akan mengulang kekalahan-kekalah sebelumnya dalam setiap menghadapi retorika zaman, meskipun komunitas kaum ulama ini tidak akan lenyap atau bubar.

Dalam konteks di atas, kehadiran buku ini sangat penting untuk diapresiasi sebagai pandangan/panduan yang mungkin bisa dijadikan pertimbangan dan bahan renungan demi membangun masa depan NU di tengah-tengah ganasnya serangan neoliberalisme. [M David Rahman, mahasiswa FH UII, Mantan Ketua PMII Komisariat Wahid Hasyim UII]

sumber:www.suarapembaharuan.com

1 komentar:

blog yang keren ya mas...
btw, tukeran link ya...
blog46us.blogspot.com
thankz...

Ketentuan berkomentar :

- Dilarang menautkan link aktif maupun mempastekan link mati, karena komentar yang disertai promosi URL tidak akan pernah tampilkan

- Dilarang berkomentar yang Di Luar Topik (OOT), promosi, dan komentar-komentar yang anda tidak suka jika hal itu terjadi di blog anda sendiri, karena komentar seperti itu tidak akan pernah ditampilkan