Menggagas Teologi Paranormal


Judul: Yang Kudus dan Yang Gaib, Menyorot Gejala Paranormal
Penulis: John J Heaney
Penerbit: Kanisius
Cetakan: Pertama, 2008
Tebal: 367 Halaman

SELAMA ini banyak orang ingin mengerti dan mendalami makna sejati dari gejala-gejala paranormal atau kemampuan luar biasa, daya limuwih yang dimiliki oleh seseorang, misalnya kemampuan melihat terawang ruang ataupun lintas waktu (clairvoyance) atau memahami rasa-perasaan dan batin orang lain. Demikian juga, tentang daya penyembuh suatu penyakit dan daya mengerakkan benda di luar seseorang tanpa menggunakan daya otot organ tubuhnya (paregi psikokinensis).
Gejala seperti itu membuat orang bertanya-tanya, khususnya umat Kristiani. Bagaimana menghubungkan daya-daya tersebut dengan iman Kritiani? Apa gejala daya-daya luar biasa paranormal melekat pada kodrat manusia sebagai manusia? Lalu, bagi orang yang memang berkemampuan seperti itu, bagaimana campur tangan Allah menurut paham wahyu Kristiani? Misalnya, daya telepati daya penyembuh penyakit, daya prekognisi, apakah penelitian tentang adanya penampakan-penampakan akan berpengaruh pada pengertian tentang Yesus yang bangkit dari mati? Apakah hubungan antara kesaksian-kesaksian tentang kehidupan setelah mati dengan iman Kristiani tentang kebangkitan badan?

Pertanyaan semacam itu biasanya membuat orang bingung. Kalau pertanyaan disampaikan kepada orang pintar, kebanyakan jawaban yang didapat masih begitu gamang. Banyak orang secara mudah mengatakan bahwa daya-daya luar biasa itu berasal dari roh jahat atau dari setan. Pemilik dan pengguna daya-daya luar biasa itu dianggap sebagai pengikut begondhel setan sehingga yang terjadi orang seperti itu harus dihindari oleh orang yang ingin menjadi baik.

Menolong

Pandangan penyetanan daya-daya luar biasa seperti ini membuat orang menganggap daya-daya itu tabu, dan jangan ada orang yang membayangkannya, apalagi menginginkannya. Padahal, pada kenyataannya, daya-daya luar biasa itu sesuatu yang sungguh menolong orang menjadi sembuh dari penyakit atau menemukan sesuatu dari jarak jauh dan lain sebagainya yang bersifat gaib.

Sebagian yang lain dengan begitu mudah mengatakan bahwa itu mukjizat, paham keyakinan agama tertentu tentang terjadinya peristiwa langsung dari Allah. Memang, tidak sedikit orang mengaku-ngaku mengalami mukjizat. Padahal itu bukan mukjizat, tetapi pengalaman itu murni manusiawi. Apalagi kalau orang itu fanatik mengakui daya itu sebagai kekhususan daya dari agamanya atau keyakinannya. Dengan akibat adanya tuntutan, siapa pun yang bersangkut paut dengan daya itu, ia harus ikut meyakini agama orang yang berbakat dan menggunakan daya tersebut.

Sampai sekarang ilmu hasil penelitian dan pencermatan tentang daya-daya itu belum banyak terkuak secara publik. Yang umum sampai di masyarakat luas adalah tafsiran mistis dan pragmatis terhadap daya-daya misterius tersebut dengan akibat justru sering malah menyesatkan dan membuat orang bertindak yang aneh-aneh dan secara nalar tidak dapat dipertanggungjawabkan. Kondisi itu disebabkan oleh karena tidak ada keterangan tandas yang memadai secara ilmiah.

Menghadapi kepelikan masalah daya luar biasa seperti itu, John J Heaney dengan berani mencoba menerobos benteng ketabuan melalui kerja sama dengan para peneliti tentang daya-daya itu secara ilmu modern. Sesuai dengan kesarjanaannya dalam bidang teologi, ia melakukan refleksi teologis terhadap gejala keparanormalan tersebut. Dengan mengumpulkan dongeng-dongeng dan cerita-cerita rakyat tentang adanya gejala aneh. Terhadap dongeng-dongeng dan isu-isu itu, diadakan klasifikasi gejala-gejala serupa dan ditempuh pendekatan dan percobaan untuk mendapatkan data.

Ditajamkan

Dari situ, penelitian ditajamkan lagi apakah daya yang dimiliki oleh orang itu melekat pada orang tertentu secara pribadi atau kolektif. Dengan percobaan-percobaan eksperimental, lalu ditemukan simpulan bahwa ada daya luar biasa yang melekat pada diri seseorang dan ada yang datang dari luar.

Langkah selanjutnya, John J Heaney menghubungkan data penemuan ilmiah tentang daya-daya luar biasa itu dengan paham wahyu dalam iman Kristiani. Di sinilah lahir sesuatu yang disebut teologi paranormal. Keparanormalan pada dasarnya adalah daya adikodrati. Penemuan daya-daya seperti itu sangat mungkin lepas dari agama tertentu, dan merupakan bawaan kondrati manusia yang dimiliki oleh seseorang sejak lahir. Pembawaan kodrati ini sifatnya masih netral dari sesuatu yang jahat maupun yang baik. Namun, juga ditemukan bahwa ada daya-daya seperti itu dalam kasus istimewa memang merupakan karunia khusus yang diberikan oleh Tuhan kepada orang tertentu yang itu dinamakan mukjizat. Daya ilahi itu tidak dapat diterangkan secara ilmu keparanormalan dan hanya dimengerti secara imani.

Dalam buku ini, pembaca sedikit banyak akan diajak untuk berteologi keparanormalan. John J Heaney mengajak para pembaca untuk menempatkan gejala keparanormalan dalam pewahyuan Kitab Suci dan tradisi gereja. Dengan demikian, iman Kritiani dalam hubungannya dengan gejala daya-daya luar biasa dapat direfleksikan secara dialogis. Dari situ orang tidak dapat begitu saja menggeneralisasikan bahwa adanya daya limuwih itu berasal dari roh jahat. Dan orang tidak dapat begitu saja menyatukan daya-daya itu sebagai hak yang melekat pada suatu agama tertentu, sehingga seolah-olah orang harus menganut keyakinan dan agama dari orang yang kebetulan berbakat paranormal. Masing-masing peristiwa paranormal mempunyai maknanya sendiri. Manusia dalam melangkahkan hidupnya, hendaknya menyesuaikan diri dengan masing-masing gejala selaras dengan keunikannya.

Buku ini berisi tentang parapsikologi dan refleksi iman yang terkemas dengan istilah-istilah dan kalimat-kalimat teknis ilmuan parapsikologi dan teologi. Buku ini sangat menarik untuk dibaca terlebih oleh orang yang pernah atau sedang atau baru mau mengenyami ilmu parapsikologi dan teologi dan bagi yang ingin mendalami ilmu keparanormalan dalam hubungannya dengan iman. Karena buku ini banyak bicara soal paranormal yang dewasa ini sedang ramai dibicarakan, baik oleh masyarakat maupun oleh Gereja. Dengan mencoba memberikan pendekatan serta pandangan masalah tersebut dalam terang iman.
(Syaiful A’la/35)
Sumber:www.suaramerdeka.com

Ketentuan berkomentar :

- Dilarang menautkan link aktif maupun mempastekan link mati, karena komentar yang disertai promosi URL tidak akan pernah tampilkan

- Dilarang berkomentar yang Di Luar Topik (OOT), promosi, dan komentar-komentar yang anda tidak suka jika hal itu terjadi di blog anda sendiri, karena komentar seperti itu tidak akan pernah ditampilkan