Membedah Cakrawala Gus Mus

Judul buku : Gus Mus; Satu Rumah Seribu Pintu
Penulis: Labibah Zain & Lathifatul Khuluq
Penerbit: LkiS, Yogyakarta
Cetakan: I, 2009
Tebal: xxiv + 290 Halaman
Peresensi: Fuad Hasan*)
Ibarat sebuah rumah, Gus Mus memiliki seribu pintu, setiap orang bisa masuk dan keluar darimana pun ia suka. (Hamdy Salad).
KH Mustofa Bisri (Gus Mus) ini, merupakan sosok seorang yang kompleks dalam berbagai bidang keilmuan. Selain kepak sayap kecerdasannya sebagai ulama penegak Syari’at Islam, Gus Mus juga seorang yang berkompeten dalam bidang intelektual, jurnalistik, kebudayaan, serta kesusastraan.
Potret masa kecilnya, Gus Mus terkenal dengan kehausannya akan ilmu pengetahuan. Banyak pesantren di seluruh Jawa penah didatangi dan diubek-ubeknya untuk mencari ilmu pengetahuan serta hikmah di dalamnya. Pesantren-pesantren yang pernah ia singgahi banyak tersebar di negeri ini, seperti halnya Pesantren Lirboyo Kediri, Al Munawwir Krapyak, Yogyakarta, dan lain-lainnya.

Dalam bidang kepenulisan (Jurnalistik), Gus Mus sangat berpengalaman dalam dunia ini. Sekitar tahun 1970-an ia sering menggunakan identitas kepenulisannya di media masa dengan nama M. Ustov Abisri. Oleh kerena itu, Selamet Effendy Yusuf memasuki kedalaman cakrawala Gus Mus dari segi background nama samarannya tersebut. Menurut Effendy, sosok KH Mustofa Bisri tidak hanya cakap dalam menuliskan berbagai jenis artikel tentang aspek Agama Islam, tetapi ia juga terkenal sebagi penyair dan cerpenis.
Dalam bidang Islam, is adalah bintang panggung atau orator ulung. Diksi dan majas serta intonasi suara yang ia gunakan untuk menyampaikan orasinya di depan ribuan mata publik, mampu membuat para pendengarnya khusyuk mencermati dan mendalami penjelasan-penjeasan beliau.
Selain itu, M. Ustov Abisri juga sekaligus sebagai seorang agiator yang mampu menggugah dan menggerakkan masyarakat luas untuk menentang semua hal yang menyimpang dari prinsip-prinsip Syariat Islam. Sikap dan tindakannya sangat tegas terhadap para pemimpin yang menyeleweng dan membuat rakyatnya tidak sejahtera. Bahkan beliau sering menyerukan kepada masyarakat untuk melawan para penguasa yang dzalim. (Halaman: 208).
Kesusastraan
Dalam buku ini tercermin jelas pribadi beliau. Banyak para cerpenis dan penyair yang tak enggan berkorelasi dengan pemikiran dan pandangan Gus Mus. Hamdy Salad misalnya, ia mengatakan “ibarat rumah, Gus Mus memiliki seribu pintu, setiap orang bisa masuk dan keluar darimana pun ia suka.” Hal ini menyatakan bahwa sikap Gus Mus yang sangat terbuka terhadap hal apapun, dan mempunyai filter untuk membentengi ideolgi diri dari arus global yang kompleks.
Kiai kondang Rembang ini memang tak pernah henti-hentinya berekspresi, menjebol dinding-dinding pembatas yang menangkar dalam dirinya dan membuka segala bentuk cadar sosial dan budaya, baik tradisi maupun keagamaan yang dapat menutupi kebebasan dalam eksistensi seluruhnya, dengan ketulusan dan rendah hati.
Dalam wilayah seni dan kesusastraan, keberadaan sosok Gus Mus tak mungkin bisa dieliminasi. Justru sebaliknya kehadiran dan keterlibatannya dalam wilayah tersebut telah dinilai berhasil menegakkan dimensi baru pada wacana estetika religiusitas dan spiritualitas. Lebih dari itu, karya-karya Gus Mus juga diketegorikan memiliki kecenderungan khas yang dapat dijadikan salah satu dari pengukuh tradisi seni dalam kebudayaan indonesia kontemporer.
Dalam konteks dinamika budaya, ketokohan dan kesenimanan Gus Mus dapat dimaknai sebagai support untuk menyusun agenda-agenda baru dalam bidang seni, atau bentuk aktifitas kreatif lain yang mampu mengimbangi program-program pemberdayaan di bidang sosial, budaya, dan keagamaan yang berjalan selama ini. Orientasi pentingnya adalah, agar kekuatan hakiki dari seni yang menjadi warisan nenek moyang bisa ia gunakan sebagai penjaga gawang moral dan spiritualitas bangsa ditengah kompleksitas masyarakat dan ancaman globalisasi.
Selain itu, agenda-agenda seni di lingkungan lokalitas pesantren, dapat ia implementasikan melalui kajian yang bersifat teoritis dan praksis. Kajian teoritis di arahankan untuk membedah wacana, konsepsi dan interpretasi, serta pemikiran dan filsafat estetis dalam perspektif kebudayaan Islam. Gus Mus mampu menciptakan revtalisasi, inovasi, dan kreasi untuk menghangatkan kembali seni tadisional kedalam bentuk-bentuk ekspresi baru, atau mengakulturasikan seni pesantren atau lokalitas dengan seni moderen tanpa meninggalkan esensi dan substansinya.
Pada endingya, kesetiaan dan keteguhan Gus Mus yang luar biasa dalam kerangka menegakkan Islam sebagai agama rahmatal lil alamin merupakan teladan bagi generasi sekarang dan yang akan datang. Begitu juga konteks dengan bangsa, jika bangsa kita mampu menanamkan akar tradisi dan kebudayaan yang kuat dalam jiwa masing-masing, justru, akan meningkatkan kemampuan kritisnya dalam menghadapi tantangan arus globalisasi yang menyelimuti seluruh belahan dunia.
Dalam rangka menyambut gelar kehormatan Honoric Causa (HC) untuk M.Ustov Abisri, yang dianugerahkan oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, buku ini hadir sebagai persembahan berbagai sahabat di seluruh dunia tentang sifat, sikap, serta lorong-lorong kehidupan Gus Mus.
Orang-orang yang berkompeten dalam bidang agama, seperti Habib Luthfi Ali Bin Yahya, Ehma Ainun Najib, Syihabbudin Qalyubi dan mereka yang berkompeten menjaga sastra, termasuk Goenawan Moehammad, Sapardi Djoko Damono, Acep Zamzam Noor, mereka semua telah menumpahkan pandangan secara pribadi tentang berbagai pengalaman intim dengan Gus Mus. Lebih lengkapnya buku ini adalah wadah curahan isi hati para sahabat sebagai kenang-kenangan untuk KH Musthofa Bisri atau M. Ustov Abisri alias Gus Mus .
*)Fuad Hasan adalah Pustakawan TBM Pesantren Al Mukarromah, Pati.

Ketentuan berkomentar :

- Dilarang menautkan link aktif maupun mempastekan link mati, karena komentar yang disertai promosi URL tidak akan pernah tampilkan

- Dilarang berkomentar yang Di Luar Topik (OOT), promosi, dan komentar-komentar yang anda tidak suka jika hal itu terjadi di blog anda sendiri, karena komentar seperti itu tidak akan pernah ditampilkan