Kopi, Rokok, dan Peradaban

Ketika pertama membaca buku ini, saya teringat celetukan seorang teman lama yang kebetulan bertemu di Lembayung, sebuah warung kopi di daerah Kotagede Jogja. Saat itu, dengan wajah sama sekali tak serius, dia berkata, "Peradaban besar manusia senantiasa lahir di sekitar air. Karena itu, sering-seringlah datang ke sini. Ngobrol sambil minum kopi."
Kata-kata sederhana teman saya ini sempat menggugah perasaan saya. Saya pikir, memang demikianlah. Kita mengenal peradaban Sungai Nil, peradaban Eufrat dan Tigris, peradaban Sungai Kuning. Di Indonesia sendiri, kerajaan-kerajaan muncul di sisi sungai, seperti Singasari dan Majapahit. Mungkin demikian pula, kerajaan-kerajaan yang lain. Di sisi lain, saya beberapa kali pernah singgah di pondok pesantren yang berbeda, dan mendapati bahwa letak pondok (khususnya pondok-pondok tua) selalu tidak jauh dari sumber air: entah sungai, entah telaga. Demikianlah sejarah takkan membantah celetukan teman saya itu.


Tapi tentang kopi? Apakah sudah mewakili kata "air" sebagai sumber peradaban? Saya pikir dan saya renungkan. Dan tentu saja, saya kait-kaitkan. Kopi memang identik dengan ngobrol, dengan diskusi dan kongkow-kongkow. Saya kenal beberapa teman aktivis, rata-rata mereka 'pecandu' kopi. Kopi kental, tentu saja. Saya sempat sowan beberapa kiai, sempat baca biografi mereka, atau sekadar bertanya-tanya, dan kopi biasanya menjadi salah satu minuman favorit mereka. Cukupkah ini menjadi bukti? Saya tidak tahu. Namun kalau kita melihat bahwa orang-orang besar selalu tidak memiliki cukup waktu untuk tidur, saya kira kopi dan ngobrol adalah alat untuk membunuh kantuk paling efektif. Beberapa teman penulis pun kerap memanfaatkan kopi sebagai teman begadang mereka di depan tut-tut komputer atau sebagai asesoris yang memperindah suara tik-tak-tik-tak mesin ketik di lengang malam.
Ok-lah, saya akhirnya, meski untuk sementara, menyetujui kata-kata teman saya itu. Sementara, karena seperti Iwan fals bilang, "Entah esok hari. Entah lusa nanti. Entah." Yang jelas, sekarang sudah saya setuju.
Hanya saja, bagaimana dengan rokok yang kau hisap tanpa putus itu, kawan?
Kawan saya bilang, "Peradaban tanpa api takkan berarti."
Kata-kata kawan saya itu tiba-tiba menerbangkan saya jauh ke masa silam, saat saya kelas 5 SD. Saat itu, sedang booming-boomingnya sandiwara radio Saur Sepuh karya S. TIjab (?) itu. Berbeda dengan melihat sinetron yang demikian unimajinatif, sandiwara radio demikian merangsang imajinasi kami sebagai kanak-kanak. Saat Mantili mengulurkan Pedang Setannya, seakan-akan aku dan teman-teman yang berdesakan di depan radio benar-benar mencium bau busuk yang menyengat, sedangkan di bayangan kami Mantili meloncat dari satu tempat ke tempat lain, menghidari serangan Lasmini yang licik. "Ciat! Ciat! Ciat!" Waktu itu, dalam imaji kami yang masih kanak, setiap orang berkelahi harus mengucapkan ciat-ciat dahulu.
Ketika mendengar "Peradaban tanpa api takkan berarti," saya teringat Mantili atau Raden Bentar atau entah siapa, yang sedang melarikan diri dan tersesat dalam kegelapan hutan. Ketika dari jauh dia menangkap sulur-sulur cahaya, yang semakin besar dan semakin jelas, meski satu titik cahaya, mereka akan segera menyimpulkan bahwa di depan sana pasti ada rumah, ada perkampungan, dan karenanya, ada peradaban. Ah, semoga pikiranku ini tidak terjebak pada otak-atik gathuk.
Yang jelas, buku ini diterjemahkan dari sebuah kitab klasik pesantren yang berjudul Irsyâd al-Ikhwân fî Bayân Hukmi Syurb al-Qahwah wa ad-Dukhân karangan Syaikh Ihsan Jampes-Kediri (w. 1952 M.). Kitab Irsyâd al-Ikhwân merupakan adaptasi puitik atas kitab Tadzkirah al-Ikhwân fî Bayâni al-Qahwah wa ad-Dukhân karangan KH. Ahmad Dahlan Semarang, yang kemudian disusun menjadi bait-bait senandung bermatra rajaz. Uniknya, tidak sebagaimana tradisi penulisan kitab kuning—di mana seorang penulis lebih memilih memberi syarah (komentar/catatan) atas kitab orang lain—bait-bait susunan Syaikh Ihsan ini justru disyarahi (diberi komentar/catatan) oleh Syaikh Ihsan sendiri. Yang menjadi menarik adalah kenyataan bahwa kitab Irsyâd al-Ikhwân yang diterjemahkan menjadi Kitab Kopi dan ROkok ini, setidaknya hingga saat ini, menjadi satu-satunya buku yang mengupas seluk beluk kopi dan rokok, mulai dari sejarahnya hingga polemik tentang hukum mengkonsumsinya. Lebih menarik lagi ketika Syaikh Ihsan, sang pengarang, telah menuliskannya pada lebih dari setengah yang lampau, jauh sebelum FATWA MUI menggegerkan negeri ini.


Peresensi: Kang Mahbud

Ketentuan berkomentar :

- Dilarang menautkan link aktif maupun mempastekan link mati, karena komentar yang disertai promosi URL tidak akan pernah tampilkan

- Dilarang berkomentar yang Di Luar Topik (OOT), promosi, dan komentar-komentar yang anda tidak suka jika hal itu terjadi di blog anda sendiri, karena komentar seperti itu tidak akan pernah ditampilkan